
Hari pertama perdagangan bulan Juni 2025, kita mendapat kabar buruk yang semakin menunjukkan kondisi ekonomi tidak baik-baik saja. Ini kemudian menjalar pada mesin ekonomi yang mulai ngadat, yaitu penyaluran kredit perbankan.
Kabar buruk pertama datang dari kondisi manufaktur Indonesia yang lagi-lagi mengalami kontraksi. Ini tercermin dari Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Senin (2/6/2025) menunjukkan PMI manufaktur Indonesia ada di 47,4 atau mengalami kontraksi pada Mei 2025. Ini adalah kedua kali dalam dua bulan beruntun PMI mencatat kontraksi.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
S&P Global menjelaskan aktivitas produksi dan pesanan baru kembali melemah, dengan penurunan pesanan baru yang bahkan lebih tajam dibanding April. Penurunan pesanan bahkan menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021.