
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda, Eppo Bruins, sepakat memperkuat kerja sama repatriasi atau pemulangan benda-benda budaya Indonesia dari Belanda. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan bilateral di Kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda di Den Haag, Sabtu (14/6/2025).
Kedua menteri menegaskan pentingnya kolaborasi jangka panjang dalam riset asal-usul koleksi (provenance research), penguatan kerja sama kelembagaan, serta penyederhanaan proses pengembalian benda budaya yang secara historis dan kultural berasal dari Indonesia. Selain itu, mereka membahas potensi kerja sama lanjutan dalam pemanfaatan arsip kolonial dan bidang ekonomi serta industri budaya, termasuk optimalisasi perjanjian kerja sama perfilman yang telah ditandatangani pada Desember 2024. Menteri Fadli Zon juga mengusulkan pengembangan film bersama yang mengangkat narasi sejarah kedua negara.
Menteri Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pemulangan 828 obyek warisan budaya ke Indonesia hingga akhir tahun 2024, termasuk Koleksi Pita Maha, Harta Karun Lombok, dan 68 artefak dari Museum Rotterdam. Ia menegaskan bahwa repatriasi ini sangat penting untuk melengkapi narasi sejarah, memulihkan memori, martabat, dan identitas budaya bangsa. “Ini bukan hanya soal mengembalikan benda. Ini tentang mengembalikan sejarah dan harga diri bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Bruins menyatakan dukungannya penuh terhadap upaya restitusi benda-benda budaya dari Belanda ke Indonesia. Ia menegaskan bahwa seluruh benda atau artefak yang bukan milik Belanda harus dikembalikan ke tempat asalnya. Bruins menyatakan, “Sesuatu yang dicuri tak sepatutnya disimpan di sini.” Ia juga menekankan pentingnya riset asal-usul yang menyeluruh, namun proses pengembalian harus berlangsung cepat dan tanpa hambatan administratif atau birokrasi yang rumit.
Agenda repatriasi ini akan diperkuat melalui perpanjangan Technical Arrangement on Repatriation yang dijadwalkan akan ditandatangani pada Juli 2025. Perjanjian ini menjadi bagian dari pelaksanaan Indonesia–Netherlands Comprehensive Partnership dan Plan of Action 2024–2025, di mana kebudayaan menjadi salah satu pilar utama kerja sama kedua negara.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Bruins juga menyampaikan apresiasi atas peran aktif Indonesia House Amsterdam sebagai pusat diplomasi budaya dan ekonomi kreatif Indonesia di Eropa. Ia berharap dapat memperkuat sinergi melalui program bersama dengan Erasmus Huis Jakarta, memperluas kerja sama budaya dan ekonomi kreatif kedua negara.
Kunjungan bilateral ini menandai babak baru dalam diplomasi budaya Indonesia dan Belanda yang lebih setara, kolaboratif, dan berorientasi masa depan. Sebagai bagian dari penguatan hubungan ini, Fadli Zon secara resmi mengundang Menteri Bruins untuk berpartisipasi dalam CHANDI Summit 2025 yang akan diselenggarakan di Bali pada September 2025.